Friday, March 09, 2007

Masa Lalu; dan rasa itu

terukir dalam kelabu
hanya sekejap
meski begitu lambat dan terurai panjang
aku tetap berjalan

dedaunan jatuh tidak berarti gugur
gunung meletus bukan berarti hancur
masih ada sisa tetes embun yang sudi menyentuhnya
dalam kerlap malam ia juga masih disinari rembulan

ke laut engkau kan bertemu bintang
ke sahara engkau akan bertatap senja
ke hati engkau kan bertemu dia

kini tabir itu terasa indah
terbuka dan menawarkan setitik rasa beda
yang kemudian kujelmakan menjadi cinta
dalam jubah ketulusan
diiringi ribuan malaikat kasih sayang
datang dari surga

kemudian rasa apalagi yang harus tertutupi
selain cinta dan kelembutan dari dalam hati
untuk seseorang yang begitu indah
begitu mempesona
begitupun ketika lambaiannya datang dengan senyum

aku cukup terlarut dalam mimpi yang
paling indah bagiku

Selengkapnya...

Saturday, February 24, 2007

Hari VII (Berpisah untuk Bertemu di Babak yang Lain)‎


Pagi ini aku membukakan mata perlahan dan memastikan kalau sesaat lagi ‎kita akan sampai di stasion Ramses Kairo. Kulihat angka di ponselku, ‎menunjukkan angka 8, berarti masih 2 jam lagi perjalanan menuju Kairo, ‎karena dijadwalkan jam 10 kita sudah sampai di stasion Ramses.

Sekedar ‎melengkapi detik-detik perpisahan dan menunggu waktu itu, "The Gembel" ‎mengisi waktu luang dengan saling bertukar kesan selama sepekan berenam. ‎Menurutku, Agus dengan kekonyolan dan kelucuannya membuat suasana ‎hening jadi begitu ramai, Yayah dengan cerita-cerita 'porno'-nya yang ‎seharusnya disensor, Ulya sahabat baruku yang begitu loyal ini membuat ‎perut kita tidak pernah terasa lapar, Meri yang ra
jin hunting photography ‎kadang bikin kesel, sering hilang waktu jalan bareng, Fifi yang selalu jadi ‎teman terdekatku selama sepekan. Tak ada kata bosan dan jenuh untuk selalu ‎bersama. Itu semua kesan satu-satu menurutku, kalau secara keseluruhan ‎yang jelas aku nggak pernah menyesal untuk bersama mereka semua.
Ikatan ‎hati kita berenam sudah begitu menyatu, sehingga tak ada lagi rahasia. ‎Bahkan kata-kata, cerita-cerita yang seharusnya disensor itu kita ceritakan. ‎Yang jelas dari kesan-kesan semuanya. Tak ada satupun yang meninggalkan ‎cacat di antara kita berenam. Kita cuma bisa berharap suatu saat kita berenam ‎dipertemukan lagi dalam momen yang berbeda dengan suasana hati yang ‎lebih bahagia tentunya. ‎

Selengkapnya...

Hari VI (Selamat tinggal Aswan dengan Berjuta Kenangan)‎



Pagi ini kita sudah harus beres-beres barang, karena kita akan check-out jam 9 ‎pagi ini. Padahal kita baru akan kembali ke Kairo nanti jam 6 sore. Masih ada ‎beberapa agenda hari ini sebelum kita meninggalkan kota Aswan. Al-Masallah ‎al-Naqishoh mengawali rentetan perjalanan pagi ini.

Tempat ini menyimpan ‎benda yang sering kita kenal dengan sebutan Obelisk, namun di sini benda-‎benda itu dipercaya masih belum sempurna pembuatannya tapi sudah ‎hancur terlebih dahulu. Maka dari itu disebut Masallah Naqishoh. Di tempat ‎ini, hanya memakan 20 menit, waktu yang sangat singkat dibanding dengan ‎ku
njungan-kunjungan yang lain yang setidaknya menghabiskan waktu satu ‎jam setengah. Setelah dari tempat ini kita langsung menuju ke Ma'abid Philae, ‎ma'bad yang terletak di tengah-tengah Nil, menuju ke tempat itu saja harus ‎menggunakan perahu. Di sana hampir sama dengan tempat-tempat yang ‎sebelumnya sudah kita kunjungi. Tempat-tempat peribadatan Mesir Kuno, ‎zaman aliran Paganisme begitu maraknya. Setelah dari tempat itu, aku ‎menuju ke tempat yang bernama "al-Qoryah al-Nubiyyah". Lagi-lagi perjalanan ‎kita harus melintasi sungai Nil, kali ini lebih jauh. Memakan waktu dua jam ‎pulang pergi, untuk mengunjungi sebuah pedesaan yang terasingkan. ‎Padahal dipercaya bahwa keturunan Mesir yang pribumi adalah keturunan ‎Nubiyyah itulah. Pedesaan yang tidak terlalu besar, namun tidak begitu ‎tertinggal. Di desa yang begitu jauh dari pusat perkotaan masih ada warnet ‎‎(warung internet). Saluran listrikpun sudah masuk ke daerah itu. Selama ‎perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang sangat-sangat alami, ‎warna hijau yang memenuhi kelopak mata membuat sejuk hati dan ‎merasakan bahwa cinta hadir lagi.‎
Jam 6 sore ini kita menuju stasion Aswan yang tidak begitu jauh dari hotel, ‎hanya memakan waktu 3 menit. Sembari kulangkahkan kaki ke arah kereta ‎aku terhenti sejenak untuk sedikit membalikkan kembali wajahku ke arah ‎berlawanan dan berkata dalam hati "Tempat ini begitu istimewa bagiku, kota ‎ini banyak menemaniku dalam kebah
agiaan yang berkepanjangan namun ‎kuyakin akan ada pungkasan. Tempat ini begitu istimewa bagiku, banyak ‎kenangan yang menjadikan aku bisa menumbuhkan rasa itu lagi, rasa yang ‎sudah lama kucoba untuk kukubur namun muncul lagi. Aku tak tahu siapa ‎yang salah, kalau rasa itu tumbuh lagi." ‎
‎"Sudahlah, aku tak ingin keindahan kenangan kota ini kukotori dengan rasa ‎yang abstrak itu. Biar kunikmati dan kujadikan butir-butir kenangan manis, ‎perjalanan sepekanku ini, dengan sahabat-sahabat yang luar biasa dan ‎bagaimanapun juga, setiap sesuatu ada akhirnya. Kini aku harus mengakhiri ‎kisah manis sepekan di Luxor dan Aswan."‎
‎"Aku berharap suatu saat aku bisa kembali ke tempat ini dengan kisah yang ‎lain, dengan warna yang lain, dengan rasa yang lain. Namun pulang dengan ‎senyum yang sama."‎

Selengkapnya...