terukir dalam kelabu
hanya sekejap
meski begitu lambat dan terurai panjang
aku tetap berjalan
dedaunan jatuh tidak berarti gugur
gunung meletus bukan berarti hancur
masih ada sisa tetes embun yang sudi menyentuhnya
dalam kerlap malam ia juga masih disinari rembulan
ke laut engkau kan bertemu bintang
ke sahara engkau akan bertatap senja
ke hati engkau kan bertemu dia
kini tabir itu terasa indah
terbuka dan menawarkan setitik rasa beda
yang kemudian kujelmakan menjadi cinta
dalam jubah ketulusan
diiringi ribuan malaikat kasih sayang
datang dari surga
kemudian rasa apalagi yang harus tertutupi
selain cinta dan kelembutan dari dalam hati
untuk seseorang yang begitu indah
begitu mempesona
begitupun ketika lambaiannya datang dengan senyum
aku cukup terlarut dalam mimpi yang
paling indah bagiku
Friday, March 09, 2007
Masa Lalu; dan rasa itu
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:47 AM
0
komentar
Kategori: Puisi
Saturday, February 24, 2007
Hari VII (Berpisah untuk Bertemu di Babak yang Lain)

Pagi ini aku membukakan mata perlahan dan memastikan kalau sesaat lagi kita akan sampai di stasion Ramses Kairo. Kulihat angka di ponselku, menunjukkan angka 8, berarti masih 2 jam lagi perjalanan menuju Kairo, karena dijadwalkan jam 10 kita sudah sampai di stasion Ramses.
Sekedar melengkapi detik-detik perpisahan dan menunggu waktu itu, "The Gembel" mengisi waktu luang dengan saling bertukar kesan selama sepekan berenam. Menurutku, Agus dengan kekonyolan dan kelucuannya membuat suasana hening jadi begitu ramai, Yayah dengan cerita-cerita 'porno'-nya yang seharusnya disensor, Ulya sahabat baruku yang begitu loyal ini membuat perut kita tidak pernah terasa lapar, Meri yang rajin hunting photography kadang bikin kesel, sering hilang waktu jalan bareng, Fifi yang selalu jadi teman terdekatku selama sepekan. Tak ada kata bosan dan jenuh untuk selalu bersama. Itu semua kesan satu-satu menurutku, kalau secara keseluruhan yang jelas aku nggak pernah menyesal untuk bersama mereka semua. 
Ikatan hati kita berenam sudah begitu menyatu, sehingga tak ada lagi rahasia. Bahkan kata-kata, cerita-cerita yang seharusnya disensor itu kita ceritakan. Yang jelas dari kesan-kesan semuanya. Tak ada satupun yang meninggalkan cacat di antara kita berenam. Kita cuma bisa berharap suatu saat kita berenam dipertemukan lagi dalam momen yang berbeda dengan suasana hati yang lebih bahagia tentunya.
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:49 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian
Hari VI (Selamat tinggal Aswan dengan Berjuta Kenangan)
Pagi ini kita sudah harus beres-beres barang, karena kita akan check-out jam 9 pagi ini. Padahal kita baru akan kembali ke Kairo nanti jam 6 sore. Masih ada beberapa agenda hari ini sebelum kita meninggalkan kota Aswan. Al-Masallah al-Naqishoh mengawali rentetan perjalanan pagi ini.
Tempat ini menyimpan benda yang sering kita kenal dengan sebutan Obelisk, namun di sini benda-benda itu dipercaya masih belum sempurna pembuatannya tapi sudah hancur terlebih dahulu. Maka dari itu disebut Masallah Naqishoh. Di tempat ini, hanya memakan 20 menit, waktu yang sangat singkat dibanding dengan kunjungan-kunjungan yang lain yang setidaknya menghabiskan waktu satu jam setengah. Setelah dari tempat ini kita langsung menuju ke Ma'abid Philae, ma'bad yang terletak di tengah-tengah Nil, menuju ke tempat itu saja harus menggunakan perahu. Di sana hampir sama dengan tempat-tempat yang sebelumnya sudah kita kunjungi. Tempat-tempat peribadatan Mesir Kuno, zaman aliran Paganisme begitu maraknya. Setelah dari tempat itu, aku menuju ke tempat yang bernama "al-Qoryah al-Nubiyyah". Lagi-lagi perjalanan kita harus melintasi sungai Nil, kali ini lebih jauh. Memakan waktu dua jam pulang pergi, untuk mengunjungi sebuah pedesaan yang terasingkan. Padahal dipercaya bahwa keturunan Mesir yang pribumi adalah keturunan Nubiyyah itulah. Pedesaan yang tidak terlalu besar, namun tidak begitu tertinggal. Di desa yang begitu jauh dari pusat perkotaan masih ada warnet (warung internet). Saluran listrikpun sudah masuk ke daerah itu. Selama perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang sangat-sangat alami, warna hijau yang memenuhi kelopak mata membuat sejuk hati dan merasakan bahwa cinta hadir lagi.
Jam 6 sore ini kita menuju stasion Aswan yang tidak begitu jauh dari hotel, hanya memakan waktu 3 menit. Sembari kulangkahkan kaki ke arah kereta aku terhenti sejenak untuk sedikit membalikkan kembali wajahku ke arah berlawanan dan berkata dalam hati "Tempat ini begitu istimewa bagiku, kota ini banyak menemaniku dalam kebahagiaan yang berkepanjangan namun kuyakin akan ada pungkasan. Tempat ini begitu istimewa bagiku, banyak kenangan yang menjadikan aku bisa menumbuhkan rasa itu lagi, rasa yang sudah lama kucoba untuk kukubur namun muncul lagi. Aku tak tahu siapa yang salah, kalau rasa itu tumbuh lagi."
"Sudahlah, aku tak ingin keindahan kenangan kota ini kukotori dengan rasa yang abstrak itu. Biar kunikmati dan kujadikan butir-butir kenangan manis, perjalanan sepekanku ini, dengan sahabat-sahabat yang luar biasa dan bagaimanapun juga, setiap sesuatu ada akhirnya. Kini aku harus mengakhiri kisah manis sepekan di Luxor dan Aswan."
"Aku berharap suatu saat aku bisa kembali ke tempat ini dengan kisah yang lain, dengan warna yang lain, dengan rasa yang lain. Namun pulang dengan senyum yang sama."
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:34 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian


