Hampir separuh malam sudah terlalui, kini waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Mata sudah mulai terasa berat untuk dipaksa beraktifitas, apalagi aku sadar kalau setibaku di Luxor nanti aktifitas yang begitu membludak akan menguras banyak tenaga. Sehingga bagaimanapun juga aku akan berusaha memejamkan mataku. Usaha itu berhasil dan mataku tertutup namun tak begitu lama, satu jam kemudian aku terbelalak kembali. Tepatnya pukul 04.00 dini hari aku terjaga dengan tubuh yang luar biasa menggigilnya. Tak kusangka kalau malam ini udara begitu dingin yang cukup menyiksa tubuhku. Aku tak membawa banyak pakaian musim dingin. Aku hanya memakai satu kaos, jaket, celana dan kaos kaki, padahal itu masih kurang cukup untuk mengobati rasa dingin yang begitu menyiksa, di saat aku menggigil kedinginan, Fifi yang duduk di sampingku ikut terbangun dari tidurnya dan menyuruhku untuk memakai sarung atau pakaian apa saja yang bisa kupakai, agar dingin yang menyiksaku bisa segera berangsur.
Aku dan "the Gembel" bercerita sambil sesekali bercanda sampai tak terasa kalau waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, sedang tadi kita cuma tidur satu jam. Maka kami memutuskan untuk melanjutkan istirahat. Namun begitu susahnya tidur di atas kereta. Bangun, tidur, bangun, tidur. Begitu terus. Sampai akhirnya waktu sudah beranjak ke angka 10.20. Aku bertanya pada salah satu petugas kereta, "Kapan kereta yang begitu pelan dan lamban ini akan sampai di stasion Luxor?" Orang itu hanya menjawab "Satu jam lagi kereta ini akan sampai tujuan." Namun sampai melebihi waktu yang dijanjikan stasion tak kunjung tampak dan menjadikan kelelahan yang begitu numpuk menjadi bertambah lagi. Apalagi WC kereta sangat jorok dan kotor membuat Meri yang sudah tak kuasa menahan buang air kecil harus sabar sampai kita semua sampai di hotel tempat kami menginap.
Kini kami sudah sampai di hotel yang kami tuju tepat pukul dua siang, telat tiga jam dari waktu yang diperkirakan. Kami tidak diberi ampun oleh panitia penyelenggara, dengan kelelahan yang luar biasa kami tak diberi waktu sedikitpun untuk bernafas menghirup udara segar di hotel Karnak ini. Datang, merapikan barang-barang, bersih-bersih muka sekaligus sholat sejenak, kemudian makan siang – sekaligus sarapan pagi – dan langsung menuju tempat wisata pembuka.
Makanan siang ini cukup mengesankan sebagai permulaan, seperempat potong ayam dengan bumbu ala mesir cukup mendongkrak perut kita yang sebelumnya hanya disodori beberapa potong roti dan cokelat serta beberapa jajanan lainnya.
Menuju wisata pertama adalah Ma'bad Karnak salah satu tempat peninggalan sejarah yang masih terabadikan di kawasan wisata Luxor ini. Tempat ini mengajak kami untuk sejenak tadabbur akan keindahan Tuhan dalam mengabadikan sesuatu yang semestinya sudah musnah. Dan kemudian setelah sekitar satu jam di sana, kami ke tempat kedua yaitu Ma'bad Luxor hampir sama dengan tempat sebelumya, mungkin keistimewaan Ma'bad Luxor adalah setting malam dengan lampunya yang cukup seram tapi romantis itu yang menjadikan Ma'bad Luxor begitu terkesan bagi pengunjungnya. Kami menghabiskan banyak memori foto di tempat ini. Ratusan foto adalah saksi bahwa kami pernah menjadi bagian dalam beberapa orang yang diberi kesempatan untuk bisa berkunjung ke tempat di mana sejarah peradaban Mesir kuno tercatat.
Saturday, February 24, 2007
Hari II (Malam yang Begitu Dingin)
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
2:33 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian
Hari I (Penantian yang Membosankan)
Mata sudah cukup lelah, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih 11 menit. Duduk hanya sekedar mengendorkan kembali urat-urat tubuhku yang semakin mengencang setelah cukup lama menunggu. Tepat pukul 8 malam aku sampai di stasiun Ramses untuk melakukan perjalanan menuju Luxor. Perjalanan ini molor setengah jam dari pukul 22.30 sampai 23.00. Namun, bukan masalah yang besar bagi rombongan kami yang sudah begitu menghayal keindahan-keindahan di tempat tujuan. Tak ada yang terukir dalam benak "The Gembel" (aku, Fifi, Meri, Agus, Ulya dan Yayah) selain asyiknya tour kali ini. Seminggu sejak tanggal 29 Januari 2007 akan menjadi saksi yang tak pernah dusta akan indahnya perjalanan tanpa jemu.
Sudah hampir lima belas menit kita duduk di kursi masing-masing, namun belum ada tanda-tanda kereta akan berangkat. Dalam hati hanya bergumam tanpa mampu berucap apa-apa. Kesal namun hanya bisa menunggu. Aku duduk di samping Fifi berhadapan dengan Yayah dan Meri, Agus duduk berseberangan denganku, sedang Ulya jauh di depan karena kursi di sekitar sudah penuh. Janggal rasanya, tapi bagaimana lagi. Ini adalah resiko karena kita tidak cepat-cepat mencari kursi sejak awal. Namun sekali lagi itu bukanlah persoalan yang cukup rumit yang bisa menjadikan nilai perjalanan ini berkurang.
"The Gembel" adalah sebutan bagi Aku, Fifi, Meri, Agus, Ulya dan Yayah. Kita berenam menamakan diri "The Gembel" dengan alasan yang perlu kami sensor, karena tak layak dikonsumsi publik.
Tepat pukul 23.55 suara tanda kereta akan bergerak sudah terdengar. Ribuan burung camar bersinggah di dalam hati, ikut menghiasi sarang yang berarti. Bunga-bunga dengan wanginya yang ikut mengharumi ruang kecil dalam kalbuku terasa begitu sempurna, terasa begitu ada dalam sisa nyawaku yang sudah hampir setengah. Kereta berjalan perlahan dan cukup lamban, tak begitu terburu nampaknya atau memang kewajiban menaati peraturan bahwa kereta tersebut tidak boleh terlalu laju. Bahkan Meri sempat nyeletuk "Jangan-jangan yang dorong kereta ini lagi capek kali ya....."
Banyak hiburan yang kami lakukan sambil mengisi kekosongan waktu sebagai pengantar tidur malam ini, mulai dari nonton komedi Boboho sampai dengan main poker. Yang jelas suasana kereta malam ini sangat tidak mendukung untuk beristirahat. Fifi bingung harus bergerak bebas agar bisa meletakkan kakinya secara nyaman. Aku juga tak terasa begitu ngantuk hingga buku "Change" yang kubawa bisa menjadi temanku malam ini sekaligus sebagai pengantar tidurku.
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
2:26 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian
Wednesday, January 03, 2007
Idul Adha & Tahun Baru 2007 (Catatan kelam di Hari Akbar)
Senja makin memerah dan langit makin gelap tak tampak ada hawa yang begitu bersahabat, entah seakan malam ini terasa begitu dingin mencekam. Tak ada suara matahari melintas untuk setidaknya menyampaikan salam perpisahannya. Aku duduk termenung dan tak mengapa. Di rumah yang akan aku tinggalkan ini aku sudah menorehkan berjuta kenangan yang kalau kuceritakan pasti takkan habis, paling tidak selama lebih kurang dua tahun, rumah ini sudah memakan dua handphoneku sebagai korban. Ya, aku kehilangan hp di rumah ini sampai dua kali. Kalau kukenang, ada tawa yang bercampur haru di sana. Tapi sudahlah, itu akan segera menjadi kenangan. Dan sebagai manusia aku rela untuk terus berjalan bukan hanya diam terpaku dan selalu mengingat kenangan itu. Aku punya kisah menarik tentang hari-hariku.
Kamis, 28 desember 2006
Hari ini aku mengundang banyak teman-temanku untuk ikut memindahkan barang-barang dari rumahku ke rumah yang akan kutempati. Hampir semua barang kini sudah siap diangkut dan dipindahkan. Dan tak lama mobil yang rencananya mengangkut barang itupun datang. Namun tanpa diduga dan tanpa disangka di saat yang sama dan di waktu itu pulalah anak tuan rumah yang selama ini selalu mencari gara-gara datang dan melarang kita untuk pindah sebelum kami membayar kerusakan-kerusakan rumahnya dengan harga yang tidak wajar. Setelah ia menghitung semua kerusakan, ia meminta kami uang sebesar LE 2500 (4 juta rupiah. red). Kalau tidak dibayar tak seorangpun dari kami boleh keluar dari rumah itu.
Tak ada cara untuk berdialaog dengan anak tuan rumah – untuk selanjutnya dipanggil Syarif – , karena selain memang dia bukanlah orang yang berpendidikan dia juga pemabuk, mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan setengah gila. Sehingga ngotot bagaimana juga tidak akan selesai. Akhirnya kita berusaha memikirkan bersama jalan keluar agar kita bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik-baik. Aku dan tujuh teman yang lainnya berusaha setenang mungkin berfikir mencari solusi. Tapi di tengah-tengah itu, tiba-tiba aku melihat Syarif mengambil pisau di dapur dan menaruhnya di saku belakang celananya. Spontan, pikiran kami buyar dan pikiran kami makin kalut dan buntu. Kami memilih untuk menghubungi salah satu senior karena hati sudah sangat kalut.
Setelah pihak senior memikirkan hal tersebut mereka memilih untuk menghubungi pihak kepolisian Mesir dan menangkap Syarif untuk kemudian diproses. Karena ia telah melakukan menyandraan dan mambawa benda tajam. Semula semua yang ada di sekitar sana merasa kesal karena pihak polisi tak kunjung datang, “di Mesir nunggu polisi sama dengan nunggu tukang listrik”. Keluh salah satu teman yang ada di dalam rumah.
Namun tak lama kemudian, dua intel datang dan menyergap Syarif dalam proses yang begitu singkat dan membawanya ke kantor polisi terdekat. Sesampainya di kantor polisi Syarif memohon maaf dan berjanji tidak akan meminta uang sepeserpun dari kami. Semula aku dan para senior tak memberikan sedikitpun kata maaf baginya. Namun lama-kelamaan naluri kemanusiaan kami luluh dan tak sanggup untuk menjatuhkan hukuman penjara padanya. “Ma’alisy ya fakhruddin, bukroh yoom ‘id we ana kan di sign, musy enta akhuya” (Maaf Fakhruddin, kamukan saudaraku, besok idul adha masak aku merayakannya di penjaga, red) itu kalimat yang ia ucapakan yang paling membuat hati salah satu senoir luluh. Setelah melalu proses yang lama, akhirnya kami memutuskan untuk membebaskannya dengan syarat.
Jum’at, 29 desember 2006
Hari ini aku bangun cukup siang, setelah semalaman sampai jam 02.00 dini hari berada di kantor polisi. Badan masih terasa letih, hati masih belum begitu tenang, karena trauma yang begitu membuat aku begitu panik. Seumur hidup aku tak pernah sepanik tadi malam. Tapi, bagiku itu adalah bagian dari kisah Tuhan yang bisa kujadikan pelajaran di kemudian hari. Pindah rumah yang semula direncanakan tadi malam, kita tunda sampai saat ini.
Kini kami sudah berada di rumah yang baru dan merapikan semua perabot dan menata rumah serapi mungkin, tak terasa kita kita selesai bersih-bersih dan rapi-rapi sampai jam 03.00 dini hari. Berarti dua malam ini aku sudah begitu lelah dan memakan banyak tenaga. Padahal besok pagi ada Sholat Idul Adha berjamaah di KBRI. Namun aku ragu kalau aku kuat untuk pergi ke KBRI yang lokasinya cukup jauh dari rumahku.
Aku tak memikirkan apa yang akan kulakukan besok, yang jelas sekarang aku ingin merebahkan tubuhku di bawah selimut tebalku dan memejamkan mataku sembari berharap mendapatkan mimpi yang indah sebagai penghibur laraku.
Sabtu, 30 desember 2006
Hari ini aku melewati pagi dengan biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa di hari idul adha ini, selain karena badan yang begitu letih hari ini aku lewati di rumah baru yang masih tak lengkap perabot dan bahan dapurnya. Bahkan sendokpun tak ada, aku mau berkreasi di dapurpun tak bisa. Mau makan di warung, tak satupun warung yang buka. Akhirnya kami serumahpun kelaparan di hari Idul Adha tahun ini.
Ahad, 31 desember 2006
Malam tahun baru yang membosankan, sama seperti kemarin, semua serba biasa. Bahkan kami serumah menghabiskan malam tahun baru dengan main pokker. Mau merayakan tahun baru di sungai Nil, tapi udara dingin di luar diiringi rintik hujan membuat langkah sedikit berat dan tak mau beranjak dari selimut.
Senin. 01 Januari 2006
Tahun baru sudah datang, lembaran baru sudah mulai kubuka. Kenangan kelam 2006 kukubur untuk kujadikan pelajaran. Kenangan indah 2006 kubiarkan menghiasi hari-hariku di tahun ini. Namun tak kubiarkan kenangan indah itu menjadikanku terlena dan merasa cukup dengan apa yang kudapat. Aku hanya berharap harapan-harapanku yang pupus di tahun 2006 bisa kuraih di tahun yang baru ini. Cinta dan kasih sayang lekaslah berlabuh untuk setidaknya menyapaku.
Sate-sate kambing membuka lembaran baru tahun ini. NU Mesir merayakan perpindahan rumah, idul adha dan tahun baru dengan nyate bareng. Ratusan teman-teman yang datang membuat tangisku pudar, membuat senyum kembali terukir. Dan kuberharap agar mimpi yang sempat dari tanganku kembali kuraih dan untuk kemudian kupeluk erat-erat agar tak lepas dari genggamanku.
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
11:23 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian, My Story


