
Pagi ini aku membukakan mata perlahan dan memastikan kalau sesaat lagi kita akan sampai di stasion Ramses Kairo. Kulihat angka di ponselku, menunjukkan angka 8, berarti masih 2 jam lagi perjalanan menuju Kairo, karena dijadwalkan jam 10 kita sudah sampai di stasion Ramses.
Sekedar melengkapi detik-detik perpisahan dan menunggu waktu itu, "The Gembel" mengisi waktu luang dengan saling bertukar kesan selama sepekan berenam. Menurutku, Agus dengan kekonyolan dan kelucuannya membuat suasana hening jadi begitu ramai, Yayah dengan cerita-cerita 'porno'-nya yang seharusnya disensor, Ulya sahabat baruku yang begitu loyal ini membuat perut kita tidak pernah terasa lapar, Meri yang rajin hunting photography kadang bikin kesel, sering hilang waktu jalan bareng, Fifi yang selalu jadi teman terdekatku selama sepekan. Tak ada kata bosan dan jenuh untuk selalu bersama. Itu semua kesan satu-satu menurutku, kalau secara keseluruhan yang jelas aku nggak pernah menyesal untuk bersama mereka semua. 
Ikatan hati kita berenam sudah begitu menyatu, sehingga tak ada lagi rahasia. Bahkan kata-kata, cerita-cerita yang seharusnya disensor itu kita ceritakan. Yang jelas dari kesan-kesan semuanya. Tak ada satupun yang meninggalkan cacat di antara kita berenam. Kita cuma bisa berharap suatu saat kita berenam dipertemukan lagi dalam momen yang berbeda dengan suasana hati yang lebih bahagia tentunya.
Saturday, February 24, 2007
Hari VII (Berpisah untuk Bertemu di Babak yang Lain)
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:49 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian
Hari VI (Selamat tinggal Aswan dengan Berjuta Kenangan)
Pagi ini kita sudah harus beres-beres barang, karena kita akan check-out jam 9 pagi ini. Padahal kita baru akan kembali ke Kairo nanti jam 6 sore. Masih ada beberapa agenda hari ini sebelum kita meninggalkan kota Aswan. Al-Masallah al-Naqishoh mengawali rentetan perjalanan pagi ini.
Tempat ini menyimpan benda yang sering kita kenal dengan sebutan Obelisk, namun di sini benda-benda itu dipercaya masih belum sempurna pembuatannya tapi sudah hancur terlebih dahulu. Maka dari itu disebut Masallah Naqishoh. Di tempat ini, hanya memakan 20 menit, waktu yang sangat singkat dibanding dengan kunjungan-kunjungan yang lain yang setidaknya menghabiskan waktu satu jam setengah. Setelah dari tempat ini kita langsung menuju ke Ma'abid Philae, ma'bad yang terletak di tengah-tengah Nil, menuju ke tempat itu saja harus menggunakan perahu. Di sana hampir sama dengan tempat-tempat yang sebelumnya sudah kita kunjungi. Tempat-tempat peribadatan Mesir Kuno, zaman aliran Paganisme begitu maraknya. Setelah dari tempat itu, aku menuju ke tempat yang bernama "al-Qoryah al-Nubiyyah". Lagi-lagi perjalanan kita harus melintasi sungai Nil, kali ini lebih jauh. Memakan waktu dua jam pulang pergi, untuk mengunjungi sebuah pedesaan yang terasingkan. Padahal dipercaya bahwa keturunan Mesir yang pribumi adalah keturunan Nubiyyah itulah. Pedesaan yang tidak terlalu besar, namun tidak begitu tertinggal. Di desa yang begitu jauh dari pusat perkotaan masih ada warnet (warung internet). Saluran listrikpun sudah masuk ke daerah itu. Selama perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan yang sangat-sangat alami, warna hijau yang memenuhi kelopak mata membuat sejuk hati dan merasakan bahwa cinta hadir lagi.
Jam 6 sore ini kita menuju stasion Aswan yang tidak begitu jauh dari hotel, hanya memakan waktu 3 menit. Sembari kulangkahkan kaki ke arah kereta aku terhenti sejenak untuk sedikit membalikkan kembali wajahku ke arah berlawanan dan berkata dalam hati "Tempat ini begitu istimewa bagiku, kota ini banyak menemaniku dalam kebahagiaan yang berkepanjangan namun kuyakin akan ada pungkasan. Tempat ini begitu istimewa bagiku, banyak kenangan yang menjadikan aku bisa menumbuhkan rasa itu lagi, rasa yang sudah lama kucoba untuk kukubur namun muncul lagi. Aku tak tahu siapa yang salah, kalau rasa itu tumbuh lagi."
"Sudahlah, aku tak ingin keindahan kenangan kota ini kukotori dengan rasa yang abstrak itu. Biar kunikmati dan kujadikan butir-butir kenangan manis, perjalanan sepekanku ini, dengan sahabat-sahabat yang luar biasa dan bagaimanapun juga, setiap sesuatu ada akhirnya. Kini aku harus mengakhiri kisah manis sepekan di Luxor dan Aswan."
"Aku berharap suatu saat aku bisa kembali ke tempat ini dengan kisah yang lain, dengan warna yang lain, dengan rasa yang lain. Namun pulang dengan senyum yang sama."
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:34 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian
Hari V (Masuk Angin, Rihlah jadi nggak Sa'idah)
Jadwal hari ini lebih parah, jam tiga dini hari kita semua sudah harus meluncur ke tempat wisata yang dikenal dengan sebutan Abu Simbel. Waktu yang terlalu pagi, udara yang terlalu dingin dan mata yang terlalu lelah tak menjadikan perjalanan kali ini terkesan dipaksakan. Aku menikmati setiap langkah. Tak ada yang memaksaku, semua kulakukan akan keinginanku yang begitu dalam. Perjalanan direncanakan menempuh waktu 3 sampai 4 jam. Dan kalau semalam kita bisa menikmati indahnya matahari saat terbenam, pagi ini kita akan menunggu saat-saat matahari terbit. Lalu kekuasaan apa lagi yang belum ditunjukkan oleh sang pecipta, semua begitu indah.
Gila, kali ini perutku tiba-tiba terasa mual, kepala tak nyaman dan rasanya aku sedang masuk angin, di hari yang begitu istimewa seperti ini aku harus sakit. Ya, tak pernah ada yang tahu kapan datangnya musibah, musibah datang tanpa permisi. Ia begitu lincah sehingga tak terdeteksi. Akhirnya perjalananku ke Abu Simbel ditemani bad mood sehingga "The Gembel" harus terkena imbasnya. Foto-foto aku malas, kalau bukan Fifi yang minta aku kurang respon, diam lebih sering dibanding becanda seperti biasa. Ah, aku tak tahu, jangan-jangan penyakit harianku selama tour kambuh lagi. Ah terserah. Aku tak tahu.
Pulang dari tempat wisata itu, aku sedikit bisa tersenyum, meski rasanya perut ini masih mual, masuk angin mungkin. Hampir tak ada kesan di Abu Simbel yang membuatku ingin kembali ke tempat itu selain kisah masuk angin di tempat yang begitu bersejarah.
Di Aswan kegiatan tidak begitu padat berbeda ketika kita di Luxor, setelah kita sampai di hotel, kita menikmati hidangan makan siang. Sekitar jam 4 seharusnya ada kegiatan namun tidak bersifat wajib, yaitu naik perahu mengitari sungai Nil bersama, kita memilih untuk tidak ikut acara itu karena kemarin kita sudah mengitari tempat itu. Selain itu, kita juga ingin cari kesempatan untuk bisa berbelanja oleh-oleh buat teman-teman yang ada di Kairo. Setelah merasa cukup belanja teman-teman pulang. Tapi aku merasa sangat kurang sekali, aku baru belanja beberapa souvenir untuk teman-teman cewekku, sedang buat teman-teman NU aku belum beli apa-apa.
Malam harinya, aku kembali ke pasar yang tidak terlalu jauh dari hotel Cleopatra, tepatnya ada di belakang bangunan hotel. Aku belanja sendiri, dengan harapan tidak ada yang mengusik keinginanku untuk memberi 'ini' ini dan memberi 'itu' itu. Malam ini "The Gembel" pisah, Fifi dan Meri santai di kamarnya, Yayah dan Agus istirahat karena begitu lelah mungkin, sedang Ulya jalan-jalan di pinggir Nil sendiri.
Akhirnya aku kembali ke kamar dengan barang belanjaan yang aku rasa lebih dari cukup buat sekedar berbagi kebahagiaan dengan teman-teman yang belum sempat ke tempat ini.
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
3:26 AM
0
komentar
Kategori: Catatan Harian


