Bintang semalam sudah redup, rembulan menyapapun kian menjauh. Pagi ini udara begitu dingin, kubuka jendela kamar hotelku sembari kunikmati udara sejuk pagi ini. Begitu istimewa rasanya, tak seperti biasanya. Hampir bisa dikatakan jarang sekali aku menikmati matahari di Kairo, setelah sholat shubuh bisa jadi aku langsung tidur kembali sampai matahari sudah sempurna. Namun, dalam tour kali ini tak mungkin bisa aku berlaku seenaknya. Acara begitu padat dan penuh, pagi ini aku memulai aktifitas sejak pukul 08.00.
Kulangkahkan kaki tepat pukul 09.00 ke arah lobi hotel untuk kemudian menerjang pagi bertepi dan berkata "Hidup memang butuh bekal, setiap langkah yang terarah menuju satu tempat yang tak setiap orang sama. Jalan panjang belum tentu memakan waktu yang lama untuk menempuhnya. Ada yang hanya memakan sedikit waktu untuk menembes aral itu. Tinggal bagaimana kita menjalankan peran itu."
Hari ini kita menuju enam tempat tujuan mulai dari Madinah Habu, kemudian disambung Hatshebsut. Dan kemudian istirahat sejenak sekaligus menuai sedikit ilmu tentang pembuatan patung, guji dan souvenir lainnya di Mashna' Alabaster. Dan kemudian kita menuju sebuah tempat yang diberi nama Wadi Muluk, di sana para Raja Mesir Kuno dan pembesarnya disemayamkan yang sebelumnya tempat ini adalah kerajaan tempat mereka memimpin pada masanya. Setelah maghrib kita mengunjungi tempat yang kemarin sudah kita datangi yaitu Ma'bad Karnak namun kalau kemarin kita ke tempat tersebut di saat matahari masih terang, hari ini kita ke sana di saat matahari sudah akan beristirahat sejenak. Di malam hari ternyata Ma'bad Karnak mengadakan sebuah pagelaran seni teater tanpa lakon, sebuah drama yang menyeritakan masa-masa kepemimpinan Ramses III atau yang masyhur dengan sebutan Fir'aun pada zaman Mesir Kuno, acara tersebut diberi nama shut wa dlu' sesuai namanya acara ini hanya bisa kita nikmati dari telinga, suara-suara yang menggema dengan dukungan sorot lampu yang menyinari sebuah bangunan jika ingin menceritakannnya dan dialihkan ke bangunan yang lain jika cerita berubah. Arenanyapun sangat alami, semua yang ingin menikmati pertunjukan ini digiring perlahan ke sebuah tempat terbuka yang sudah dikhususkan agar semua yang hadir biasa mengamati seluruh sisi dari Ma'bad Karnak secara sempurna, apalagi di tengah-tengah bangunan itu ada sebuah kolam yang dipercaya sebagai tempat mandi para Tuhan pada masa itu. Dan diberi nama al-Buhaira al-Muqaddasah. Terakhir kita berjalan ke arah Mathaf Luxor (Musium Luxor), di mana di dalamnya banyak dipajang miniatur-miniatur dan peninggalan sejarah yang masih terselamatkan dari zaman Mesir Kuno. Selesai sudahlah perjalanan resmi tour hari ini, begitu lelah. Hingga membuat penat pikiranku kumat lagi, entah faktor apa yang membuat aku seperti ini. Tapi sudah dua malam ini aku merasakan hal yang sama. Ada rasa yang luar baisa kencangnya yang menjadikan aku tak begitu nyaman berada di sekeliling "The Gembel". Ingin sendiri rasanya, tak ada yang mengganggu itu mungkin sedikit lebih baik. Aku memilih untuk sendiri, kelima teman lainnya sudah pulang ke hotel untuk istirahat. Aku duduk termenung dan hanya bisa diam di antara keramaian kota malam ini. Dingin tak membuatku ingin segera pulang. Sejenak aku berfikir, apa sebenarnya yang kulamunkan sehingga aku begitu bergejolak setiap malam. Tak pernah tertebak bahkan denyut nadikupun tak pernah paham. Tapi itu tak penting bagiku, karena aku hanya ingin sendiri malam ini.
Saturday, February 24, 2007
Hari III (Hari yang Begitu Padat, Buat Penat Kumat)
Diposting oleh:
M. Arif Ramadhan
di
2:55 AM
Kategori: Catatan Harian
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment